Ketua Komisi IV Tidak Setuju Pendidikan Jadi Biang Kerok Inflasi di Bengkulu

Featured Politik

RBO >>>  BENGKULU >>>  Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu menyoroti dan menyesalkan kenaikan biaya sekolah tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menjadi biang kerok penyumbang inflasi di Provinsi Bengkulu. Hal itu diungkapkan Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bengkulu, Dempo Xler, S.Ip, M.Ap kepada radarbengkuluonline.com  Rabu (15/9). “Artinya, ini menunjukkan bahwa selama ini, biaya pendidikan khususnya SMA/SMK sederajat itu masih mahal,” ungkap Dempo, kemarin.

Menurutnya, belum ada yang namanya biaya pendidikan khusus tingkat SMA itu gratis. Mudah-mudahan setelah Januari 2022 nanti, setelah disahkannya APBD 2022 inflasi tersebut akan turun. “Hal itu kita harapkan karena adanya program Gub-Wagub yang menggratiskan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sekolah SMA/SMK se-Provinsi Bengkulu.”

Sebelumnya, diketahui Kepala BPS Provinsi Bengkulu Ir. Win Rizal, M.E, saat rilis berita resmi BPS, Kamis (2/9) menyebutkan kenaikan biaya pendidikan, khususnya SMA di Kota Bengkulu menjadi penyumbang terbesar terhadap laju inflasi pada Agustus 2021 sebesar 0,11 persen. “Inflasi bulan ini disebabkan oleh naiknya biaya pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA), harga ikan dencis, upah tukang bukan mandor, harga rokok kretek filter, ikan tuna, pasir, biaya pendidikan Sekolah Dasar (SD), harga sepeda motor, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu dan kangkung,” katanya.

Rizal mengatakan, sektor pendidikan ini juga menjadi kelompok yang mengalami inflasi tertinggi. Yakni 2,11 persen dari 11 kelompok pengeluaran lainnya. Perkembangan harga di Kota Bengkulu pada Agustus 2021 mengalami inflasi sebesar 0,16 dan menjadikan Kota Bengkulu berada pada peringkat ke 10 dari 90 kota Inflasi di Indonesia. “Sedangkan beberapa kelompok pengeluaran lainnya yang mengalami inflasi, yakni kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,45 persen dengan inflasi sebesar 0,07 persen,” ujarnya.

Kemudian, sambungnya, kelompok transportasi sebesar 0,13 persen dengan andil inflasi sebesar 0,02 persen dan kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,06 persen dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

Sementara kelompok pengeluaran yang tidak memberi andil pada inflasi di Kota Bengkulu adalah kelompok kesehatan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, kelompok perlengkapan peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga. “Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,17 persen dengan andil deflasi sebesar 0,05 persen,” tutupnya. (idn)

BERBAGI: